P3M, Jakarta --Madrasah Islamiyah Petunduhan Palmerah, Jakarta Selatan, yang dibangun tahun 1940, dibongkar tahun 1950. Karena yang ditempati akan digunakan untuk perluasan kompleks olah raga Senayan, dalam rangka Asian Games. Sebagai gantinya pihak madrasah membeli seluas 5 ha di Ulujami. Yayasan Kesejahteraan Masyarakat Islam pada tahun 1974 mendirikan pesantren Darrunnajah.
Perintis pesantren ini adalah Drs. H. Machrus Amin, pernah mondok di Gontor, Ponorogo dan kemudian menamatkan studi di IAIN Jakarta. Pada awalnya Kyai Mahrus Amin hanya mengembangkan system madras, terdiri dari SD, Tsanawiyah, dan Aliyah. Baru Kemudian diselenggarakan pengajian kitab secara wetonan bandungan. Pelajaran madrasah disesuaikan dengan kurikulum negeri; ditambah dengan beberapa kitab, antara lain Bulughul Murom, Subulus Salam, Ajurumiyyah, dan Bidayatul Mujtahid. Sedangkan dalam pengajian setiap sore memakai Fathul Qarib dan Tafsir Jalalain.
Di tahun ajaran 1984, santri/murid seluruhnya berjumlah 880 orang, 324 putra dan 538 putri, dengan santri mukim 753 orang. Mereka berasal dari berbagai daerah di wilayah DKI Jakarta dan sekitarnya. Untuk menampung santri mukim, pesantren menyediakan 58 buah kamar pemondokan, sedangkan untuk kegiata belajar tersedia 33 buah lokal. Pesantren juga memiliki sarana olah raga terdiri dari lapangan untuk volley, basket, badminton, dan sepakbola. Perpustakaannya memiliki 1000 judul buku, 700 judul diantaranya buku agama.
Untuk mengisi waktu luang santri, pesantren menyelenggarakan berbagai latihan menjahit, keputrian, kepemimpinan dan mengetik. Sejumlah santri pernah mengikuti beberapa latihan manajemen, kesenian, unit usaha, pengembangan pesantren dan masyarakat dan latihan perpustakaan. Sebagai pengabdian kepada masyarakat pesantren ini telah mempelopori didirikanya Usaha Bersama pengrajin peci, anggotanya berjumlah 60 orang terdiri dari para pengrajin di sekitar pesantren, dengan modal awal sebesar Rp 4 juta.
Pada tahun 1983, pesantren ini mendapat penghargaan dalam lingkungan hidup se-DKI Jakarta, sebagai penyelamat lingkungan. Tahun berikutnya, masjid pesantren dinilai sebagai masjid paling bersih. Terletak di desa Ulujami, Kecamatan Kebayoran Lama, lokasi ini hanya berjarak 20 km sebelah Selatan pusat kota metropolitan Jakarta. Berbagai kendaraan umum, khususnya taksi, dapat menjangkau lokasi dengan mudah.  
Pada awalnya, Kyai Tahir Rohily yang lama bermukim di Makkah, mendirikan beberapa kamar untuk menampung para pelajar sekolah. Kamar-kamar penampungan yang kemudian ditingkatkan menjadi asrama putra-putri itu terletak bersebelahan dengan masjid tempat kyai Tahir menyelenggarakan majelis taklim.
Kyai Tahir bersama Drs. HM Syatiri Ahmad menantunya adn Dra. Hj. Suryani Tahir puterinya, berusaha agar para pelajar yang menempati asrama, memperoleh pendidikan agama. Maka kemudian diselenggarakan pengajian kitab secara sorogan. Dalam perkembangan selanjutnya, Kyai Syatiri mencoba mengembangkan sistrem madrasah yang kemudian menjelma menjadi Madrasah Tsanawiyah, Aliyah, dan Universitas Attahiriyyah. Sesudah itu menyusul Madrasah Ibtidaiyah. Majelis taklim yang sudah ada tetap dipertahankan dan dikembangkan hingga menjadi salah satu majelis taklim terkenal di Jakarta. Melalui majelis taklim ini, pengajian kitab terbuka bukan hanya bagi pelajar, tetapi juga untuk umum. 
Untuk tahun ajaran 1984, jumlah santri mukim di pesantren secara resmi mencapai 168 orang, terdiri dari 15 putera dan 93 putri. Mereka ini umumnya berasal dari daerah sekitar Jakarta, atau kabupaten lain di Jawa Barat, dan merupakan sebagian dari siswa madrasah atau mahasiswa universitas yang ada di lingkungan pesantren. Untuk menampung santri mukim, pesantren menyediakan 12 buah kamar pemondokan. Sedang untuk kegiatan belajar, tersedia 6 buah lokal. Sarana lain yang tersedia bagi santri adalah perpustakaan, lapangan olah raga dan pemancar radio. Karena lahan cukup sempit, yaitu 0,25 ha, pesantren ini mengembangkan sarana fisiknya di tempat lan, dan pengelolanya pun terpisah.
Sistem pengajaran di pesantren ini merupakan gabungan antara sistem sekolah / klasikal dengan sistem pengajian tradisional. Meskipun demikian, dalam sistem sekolah yang mengikuti kurikulum negeri, pelajaran kitab tetap diberikan. Antara lain, Fathul Qarib, Minhajul Qawim, Jauhar Maknun, Alfiyah, Tafsir Jalalain, Muchtarul Ahadits, dan Tangihul Qaul. Kitab-kitab itu pula yang kemudian diberikan dalam pengajian yang diadakan pagi dan sore.
Berbagai kegiatan di luar jam belajar banyak diikuti para santri. Antara lain latihan keputrian dan kesenian khusus putri, menyelenggarakan perlombaan cerdas cermat untuk umum, lomba memasak, busana muslim, dan MTQ. Team kasidah pesantren ini pernah meraih juara dalam lomba kasidah se-DKI Jakarta. Beberapa orang santri pernah pula dikirim mewakili pesantren dalam berbagai latihan ketrampilan. Antara lain latihan manajemen, perpustakaan, kependudukan, dan penataran juru dakwah. [Perhimpunan Pengembangan Pesantren dan Masyarakat]