JAKARTA - Presiden Susilo Bambang Yudhoyono kembali angkat bicara soal konflik GKI Yasmin. Kali ini di hadapan 128 perwakilan internasional di kantor Kementerian Luar Negeri, SBY menyatakan harapannya pada kasus ini.

SBY menjelaskan kasus GKI Yasmin, sebetulnya masalah perizinan, serta masalah hubungan antara jemaat bersangkutan dan masyarakat lokal.

Adapun kasus ini bermula pada tahun 2002 silam. SBY menjelaskan pemerintah terus mencari jalan keluar atas kasus itu, melalui pendekatan hukum dan pendekatan non-hukum.

"Karena sekali lagi pengalaman kami, kita menyelesaikan masalah Ambon, Poso, dan masalah lain-lain, pendekatan hukum semata kadang-kadang tidak bisa dengan efektif mengakhiri benturan. Tetapi dengan pendekatan tambahan itu justru lebih cepat dan lebih bisa permanent untuk menyelesaikan konflik horisontal itu," jelasnya merujuk pengalaman-pengalaman sebelumnya, di Jakarta, Rabu (15/2/2012).

Presiden lalu meminta pemerintah untuk terus melakukan mediasi dan mecari solusi terbaik.

"Mudah-mudahan dalam waktu yang tidak terlalu lama bisa diselesaikan. Saya sudah mendorong walikota (Bogor), Gubernur (Jawa Barat), masyarakat lokal untuk menemukan solusi dengan bantuan pemerintah pusat," serunya.

SBY menegaskan poin penting yang mesti diperjuangkan dalam masalh tersbeut adalah jemaat GKI Yasmin bisa menjalankan ibadah secara tenang dan damai di Bogor.

"Dan kami akan terus memastikan ini semua karena sekali lagi setiap warga negara Indonesia memiliki hak untuk menjalankan, memeluk agamanya, siapapun, apa yang islam, katolik, Kristen, Hindu, Budha, yang menurut sy mendapatkan perlindungan dari konstitusi kami," ujarnya.

Hal senada juga pernah diungkapkan SBY, kala acara tanya-jawab dengan wartawan di Istana Negara Senin (13/2/2012) lalu.

image dan berita: tribunnews
JAKARTA : Sebagai ideologi negara, Pancasila tengah menghadapi berbagai macam tantangan, baik yang bersifat nasional maupun global. Oleh karena itu, Pancasila harus direaktualisasi dan revitalisasi dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. 

Mayoritas santri di Jawa Timur menolak hukum Islam atau hukum adat dijadikan sebagai pengganti Pancasila. Para santri yang sedang menimba ilmu di pesantren-pesantren di Jawa Timur itu juga tidak menyetujui bila Pancasila digantikan dengan ideologi Islam.

Realita itu diungkap lembaga Pusat Kajian Pancasila dan Agama (Puspa) IAIN Sunan Ampel Surabaya usai melakukan penelitian melibatkan 1000 santri di berbagai pesantren yang tersebar di 20 Kabupaten/Kota. "Sebanyak 93,6 persen santri di Jatim setuju Pancasila menjadi ideologi kebangsaan," ujar Direktur Puspa IAIN Sunan Ampel Surabaya, Suyikno di Surabaya, Senin (13/2).

Menurut dia, pemahaman santri di Jawa Timur tentang ideologi Islam masih perlu diluruskan, karena 30,2 persen diantaranya masih setuju memerangi non-Muslim dan 56,8 persen santri masih setuju untuk mengusir gerakan ideologi non-Pancasila. (Andira/Hanif S)




Berutanglah Terus, Maka Jatah Rakyat Makin Kurus

Saat ini, ramai dibicarakan besarnya utang pemerintah yang jatuh tempo tahun ini. Kewajiban yang muncul akibat penerbitan surat utang maupun pinjaman langsung dari negara lain itu, sungguh fantastis. Totalnya sebesar Rp 139 triliun. Sedangkan pembayaran bunga dari utang yang masih berjalan sekitar Rp 122 triliun. Ada apa dengan utang?

Penerbitan surat utang atau meminjam dana dari luar negeri, baik melalui bilateral maupun multilateral, atau menerbitkan surat pengakuan utang, dilakukan untuk menutupi anggaran yang defisit: lebih besar pengeluaran ketimbang penerimaan. Jadi, utang selalu dianggap sebagai dewa penolong.

Seperti yang akan dilakukan pemerintah pada tahun ini. Untuk keperluan tersebut, pemerintah akan menerbitkan surat utang lagi dalam mata uang yen, yang disebut sebagai "Samurai Bond". Tujuannya, selain menambal anggaran yang masih minus, juga untuk membayar utang jatuh tempo yang sebagian besar dalam yen.

Ibaratnya, gali lubang tutup lubang, dan gali lubang lagi. Secara ekonomi, utang yang jatuh tempo – baik terjadi pada pemerintah maupun pada individu – tentu membuat kebutuhan terhadap likuiditas untuk pembayaran bertambah dari biasanya. Jika utangnya dalam bentuk yen yang terbesar, maka kebutuhan mata uang Jepang itu pun akan besar.

Dampaknya mudah ditebak. Pemerintah harus berbelanja yen untuk memenuhi kewajibannya membayar utang. Akibat ada tambahan kebutuhan terhadap yen (ditransaksikan dengan rupiah) sebagai komoditas, nilai mata uang Negeri Matahari Terbit itu berpotensi naik atau menguat.

Kemudian, dengan model anggaran yang minus, kemudian ditutupi dengan utang, bermakna kemampuan pemerintah membiayai program pembangunan makin kecil. Apalagi, dalam struktur anggaran belanja yang ada saat ini, sebanyak 60 persen digunakan untuk belanja rutin, seperti fasilitas (dari kendaraan, operasional, hingga rumah) dan gaji pegawai atau pejabat. Oh ya, ada banyak tambahan wakil menteri juga – lazimnya ikut membawa staf. Nah, barulah sisanya buat pembangunan. 

Jadi, jatah rakyat makin kurus. Sejatinya, pemerintah yang dikelilingi oleh orang-orang pintar, tentu paham dengan situasi ini. Termasuk, cara lain yang mungkin dilakukan untuk mengamankan anggaran, seperti menaikan pajak atau mengurangi subsidi. 
Apesnya, pilihan terakhir inilah yang saat ini gencar diteriakkan melalui rencana kenaikan atau pembatasan bahan bakar minyak, serta kenaikan tarif listrik. Pertanyaannya, kapan rencana belanja rutin yang memakan anggaran di atas 50 persen itu diturunkan? 

Belum pernah terdengar programnya, sekalipun sayup-sayup. Atau, kapan pajak di industri yang kerjaannya banyak menggerogoti bumi Indonesia seperti pertambangan atau perkebunan dinaikkan juga pajaknya agar tidak hanya menyisakan kerusakan lingkungan? Nyaris tak terdengar.

Justru yang paling nyaring adalah dendang dari Lapangan Banteng, tempat Departemen Keuangan bermarkas, yang tahun ini akan menerbitkan lagi surat utang senilai Rp 250 triliun. Dananya, sebagian digunakan untuk memenuhi target program yang sudah dicanangkan oleh pemerintah. Dan seperti biasa, menutupi minusnya anggaran.

Inilah langkah paling mudah menutup bolongnya anggaran. Tanpa ada “pertentangan”  politik seperti pada kebijakan menaikkan pajak di sektor pertambangan misalnya, yang dimiliki oleh orang-orang terkaya di Indonesia.

Disadarai atau tidak, utang secara ideologis adalah memberi ruang berkembangnya hegemoni pemilik modal kepada negara ini. Contohnya kasat mata. Pinjam duit ke Cina untuk proyek listrik 10 ribu megawatt, kontraktornya juga harus berasal dari Cina. Satu paket. Tentu ini berlaku dengan pinjaman-pinjaman proyek lainnya.

Mau pinjam uang dari pasar keuangan melalui penerbitan surat utang, maka kiblatnya harus dipindah ke lembaga pemeringkat dan pengelola modal swasta. Sekali lembaga pemeringkat menggoyang tingkat risiko investasi Indonesia, para calon pembeli surat utang minta imbal hasil yang lebih besar. Semuanya serba bermasalah.

Karena itu sebenarnya, pilihan cukup bijak adalah: efisiensi belanja rutin (gaji dan fasilitas), atau naikkan penerimaan pajak dari industri pertambangan dan perkebunan – ingat, lahan yang dipakai dan dikeruk adalah milik rakyat Indonesia. Sungguh tragis, jika pemiliknya hanya kebagian dampak negatif.

Janganlah kebiasaan tak elok justru dijadikan hobi: gertak rakyat dengan pengurangan subsidi, atau menerbitkan surat utang. Apalagi, saat ini rakyat masih dipaksa menikmati jalan yang rusak, buruknya fasilitas publik, dan subsidi dicabut pula ketika pendapatan rakyat belum siap menambalnya. 

Insyaflah wahai para pemimpin negeri.

Oleh Herry Gunawan
Sumber: Yahoo blogs News Room
Jakarta - Pemerintah Indonesia tidak serius menyelesaikan permasalahan hak asasi manusia (HAM). Isu HAM hanya dijadikan alat untuk membangun citra di mata internasional. Di tingkat regional, pemerintah proaktif mendorong penyelesaian konflik HAM. Namun penyelesaian konflik HAM di dalam negeri seakan berjalan di tempat. 

"Pemerintah tidak menindaklanjuti rekomendasi dan seruan tentang pelanggaran HAM di dalam negeri. Indonesia masih menjadikan penegakan HAM sebagai alat pencitraan belaka dan tidak serius mewujudkan dan mengimplementasikan di tataran nasional," kata UN Program Manager Human Rights Working Group (HRWG) Ali Akbar Tanjung dalam konferensi pers catatan setahun politik luar negeri pemerintah tentang isu HAM, Sabtu, 4 Februari 2012. 
image: antara/saiful bahri

Pernyataan tersebut dibuktikan oleh beberapa hal. Pertama, pada 2011 Indonesia pernah mendorong lahirnya resolusi PBB untuk perlindungan buruh migran. Indonesia juga meminta setiap negara meratifikasi konvensi perlindungan buruh migran. Namun langkah pemerintah ini bertentangan dengan kebijakan dalam negeri terkait perlindungan buruh migran.

Indonesia ternyata tidak meratifikasi konvensi perlindungan tersebut. "Perlindungan terhadap buruh migran juga masih minim. Upaya diplomasi buruh migran tidak didukung dengan perbaikan mekanisme nasional," kata Akbar. Sebagai negara pengirim, lanjut Akbar, Indonesia seharusnya memperbaiki mekanisme dan prosedur pengiriman buruh migran ke luar negeri.

Inkonsistensi pemerintah juga tampak jelas dalam hal kebebasan beragama. Padahal Indonesia bersama negara-negara anggota Organisasi Konferensi Islam (OKI) memainkan peranan penting dalam lahirnya resolusi memerangi intoleransi dan kekerasan berbasis agama. 

Namun kasus kekerasan dan diskriminasi dalam beragama terus-menerus terjadi. Kisruh GKI Yasmin dan bentrok di Sampang antara kelompok Syiah dan Sunni menjadi contoh bagaimana pemerintah tidak berdaya menyelesaikan masalah HAM dalam konteks kebebasan beragama.

Kasus-kasus tersebut menjadi bukti inkonsistensi kebijakan luar negeri dan dalam negeri terkait dengan penegakan hak asasi manusia warga. HRWG berharap agar pemerintah terlebih dahulu memperbaiki mekanisme penyelesaian masalah HAM dalam negeri sebelum proaktif menyuarakan isu HAM di kancah internasional.

ANANDA W. TERESIA/TEMPOdotCO
Menteri Luar Negeri Marty M Natalegawa dalam konferensi "Gerakan Global Moderat" di Kuala Lumpur, Malaysia, mengatakan bahwa keanekaragaman yang dimiliki Indonesia bukanlah suatu masalah melainkan aset bangsa.
"Indonesia merupakan negara paling beragam di dunia, rumah bagi lebih dari 300 kelompok etnis dan mempunyai populasi Muslim terbesar di dunia. Namun, kami tidak pernah melihatnya sebagai suatu masalah melainkan melihatnya sebagai suatu aset, karakter nasional," kata Marty dalam siaran pers yang diterima ANTARA di Jakarta, Kamis.
Indonesia, lanjut Marty, berhasil memelihara persatuan dan kesatuan nasional. Selain itu juga sukses melakukan transaksi sukses dari pemerintahan yang otoriter ke demokratis. 
"Indonesia menghargai keragaman yang ada sepanjang terjadinya proses peralihan itu," tukas Marty.
Marty juga menambahkan, Indonesia juga menghadapi ancaman separatis, ketegangan etnis, dan konflik agama. Bahkan, pada masa pergolakan setelah krisis 1998, beberapa pengamat dari jauh-jauh hari memprediksi kegagalan Indonesia. 
"Tapi masyarakat kami, tetap berkomitmen untuk menjaga persatuan dan kesatuan. Kami melakukan berbagai pendekatan baru, reformasi pemerintahan, dan tantangan pun bisa dilalui," tambah dia.
Selain itu, Indonesia juga mendirikan Forum Demokrasi Bali, forum antarpemerintah di Asia hanya untuk pertukaran pengalaman dan praktek dalam pembangunan politik.
"Kami juga melakukan pendekatan secara adil dan demokratis dalam menangani persoalan aspirasi dan kekhawatiran yang terjadi di masyarakat," jelas dia.
Dalam forum yang pertama kali diadakan itu, Indonesia juga menyampaikan komitmennya untuk berkontribusi membantu membuat gerakan itu berkembang. "Gerakan Global Moderat" merupakan gerakan yang diprakarsai Malaysia untuk menangkal Islamofobia.
Gerakan itu juga sekaligus menjembatani hubungan dunia Muslim dan Barat dengan lebih luas dan memastikan suara-suara moderat, yang lebih banyak diam, agar bergerak guna menangkal dominasi ekstrimis. 

sumber: antara

KETAPANG – Bagi kalangan pondok pesatren (ponpes), mempelajari buku klasik berbahasa Arab atau sering disebut dengan kitab “kuning” hal yang mengherankan. Namun sedikit mengetahui, bahwa kitab kuning yang klasik itu banyak digunakan peneliti dunia dalam mempelajari Islam.
“Selama ini ada anggapan sulit dalam mempelajari kitab kuning, padahal kitab kuning banyak dijadikan bahan atau literatur para peneliti dunia dalam mempelajari Islam,” kata Mat Nuh, Kasi Kesra Setwilda Kabupaten Ketapang dalam acara peluncuran program cepat membaca kitab kuning di Ponpes Nurilahi Sukaharja, Senin (23/1).
Di hadapan para pengurus ponpes dan para santri, Mat Nuh mengatakan tantangan di masa mendatang akan lebih berat. Zaman yang terus berkembang memaksa setiap lembaga pendidikan termasuk ponpes untuk menyiapkan sumber daya manusia yang andal.
“Untuk itu mari kita menjadi motivator dalam segala bidang bukan sebaliknya menjadi beban masyarakat,” ujarnya.
Pada kesempatan yang sama, Kasi PK Pontren Kementrian Agama Kabupaten Ketapang Drs Nasbun menuturkan kelebihan pondok pesantren dengan lembaga pendidikan lainnya dikarenakan di pondok pesantren ada program pembacaan kitab kuning yang menjadi rujukan dalam memahami ajaran Islam dengan baik dan benar.
“Kebanyakan kita paham agama hanya dari mendengar dan itu hanya untuk diri sendiri. Sedangkan memahami Islam untuk dapat disampaikan ke khalayak harus memahami kitab kuning yang rujukan aslinya Alquran dan hadis,” terang Nasbun.
Dikatakannya, Kementerian Agama Kabupaten Ketapang akan terus memantau dan mensupport pemahaman dan pembacaan kitab kuning di Ponpes Nur Ilahi dengan harapan dapat dipelajari santri dan masyarakat sekitar.
Tokoh masyarakat Sukaharja Abdullah Lehan mengatakan Ponpes Nur Ilahi dibangun atas ide dan swadaya masyarakat Ketapang. Dalam perjalanannya, Ponpes Nur Ilahi tersendat-sendat karena terbentur masalah pendanaan.
“Saya mengimbau kepada semua masyarakat agar ikut berpartisipasi membantu kelangsungan proses belajar-mengajar di Ponpes Nur Ilahi demi menegakkan siar agama Islam,” tuturnya.
Diakuinya, kondisi ponpes saat ini cukup memprihatinkan. Banyak atap yang berlubang sehingga mengganggu santri belajar saat hujan. Sementara sumber pendanaan juga sangat minim. Belum lagi setiap usulan yang diajukan ke pemerintah tidak dikabulkan.
“Sungguhpun demikian, Ponpes Nur Ilahi masih tetap eksis. Khusus untuk warga miskin tak dipungut bayaran,” ungkapnya. (KiA)
JAKARTA (Suara Karya): Rancangan Undang-Undang Organisasi Kemasyarakatan (UU Ormas) yang sedang dibahas Pansus DPR, jangan disikapi dengan anarkisme. Namun, hal itu harus direspons secara bijaksana dan berhati-hati terutama poin krusial terkait pembubaran ormas radikal dan penilaian gerakan kontraterorisme. 
"Mengenai pembubaran ormas radikal, anarkis dan anti-demokrasi," kata anggota Komisi X DPR RI Nurhasan Zaidi di Jakarta, akhir pekan lalu. Menurut dia, RUU Ormas harus hati-hati dalam menetapkan kriterianya.
"Kriteria itu harus dipahami bersama dan ormas Islam harus dalam frekuensi yang sama dalam penyikapan," ujarnya seperti dikutip Antara. Jika yang terjadi adalah anarkisme atau kekerasan terhadap pihak lain yang merugikan dan terbukti sah secara hukum, maka kewajiban aparat untuk segera menindak, menangkap pelaku dan membubarkan ormas yang melakukan kekerasan tersebut.
Tetapi, tutur ia menambahkan, dasar hukumnya juga harus kuat dan investigasi komprehensif mesti dilakukan setelah mendengar kedua pihak secara adil. "Prinsipnya adalah jangan asal tunjuk ormas, apalagi dengan `stereotyping` yang makin menyudutkan mereka. Dua di antara beberapa ormas Islam yang sering disebut sebagai ormas radikal dan anarkis. Tentu itu harus dibuktikan dengan tegas secara hukum," katanya.
Isu penting lain yang harus disikapi secara bijak dalam pembahasan RUU Ormas adalah peran ormas Islam dalam penanggulangan terorisme. Menurut dia, masih maraknya aksi dan tindakan terorisme di Indonesia tidak bisa dinafikan juga membuat ormas Islam kecolongan.
"Ratusan ribu institusi pendidikan berupa sekolah, pesantren, ma`had yang dimiliki seluruh ormas Islam, apakah tidak bisa membendung merebaknya ideologi perusak itu," ujarnya.
Selain itu, juga apakah karena rancangan kurikulum yang masih bolong-bolong atau justru karena dukungan pemerintah yang kurang dalam aspek finansial sehingga pengelolaan "pendidikan kontra-terorisme" di berbagai ormas Islam menjadi tidak maksimal. (Tri Handayani)

Berkerjasama dengan penemu teknologi dan know-how formula produk “ZPT, Hayati dan Pupuk Organik” dari Teknologi JimmyHantu-150, Jimmy alias Sujimin, P3M mengadakan pelatihan Teknologi Pertanian di Bogor. 
Acara di mulai kemarin malam, (16/01/2012), bertempat di Kampung Nyalindang RT 02/05, Sukamantri, Tamansari, Bogor. Untuk kemarin, kegiatannya hanya pembukaan yang dihadiri oleh Dewan Pengawas P3M, KH. Masdar F. Masudi.  
"Peserta kegiatan ini dari jaringan P3M yang tersebar di berbagai daerah. Diantaranya yang hadir dalam pelatihan ini, dari Nganjuk, Sulawesi, Lampung, Rembang, Blitar, Sukabumi, Tegal, dan lain-lain," tutur Imam Thoha, Program Officer Community Development. 
Menurut Imam Thoha, P3M sejauh ini sudah melakukan berbagai kegiatan hal serupa di Lapangan seperti di Subang, Sukabumi, Lampung, Karawang dan Banyuwangi. Tidak hanya dalam bentuk pelatihan dan penyuluhan kepada petani, yang pada umumnya petani di lingkungan santri yang menjadi basis dari P3M, selain juga pesantren itu sendiri. Kegiatan kali ini, adalah bentuk penguatan jaringan, dengan pengembangan kapasitas SDM kelompok-kelompok tani yang menjadi jaringan P3M. Di samping itu juga dalam pelatihan ini peserta akan dibekali materi yang tidak melulu teori, namun juga praktek langsung di lapangan. 
Tempat pelatihan yang juga kediaman Jimmy, merupakan tempat pengembangan dan budidaya, dengan tempat yang cukup luas membaur di komplek warga desa Nyalindang. Di komplek pengembangan pengembangan dan budidaya itu, terdiri dari ternak seperti itik, ayam, enthog, dan berbagai macam buah dan sayuran, juga termasuk padi organik unggulan. Di tempat inilah, nantinya peserta akan langsung bersentuhan dengan materi-materi yang disampaikan Jimmy, mengaplikasikan langsung teori yang diterangkan.
Kegiatan ini berlangsung selama tiga hari efektif, dimulai pagi ini, (17/01/2012), Pengolahan lahan pertanian, Penjelasan pupuk dan bukan pupuk, perbedaan hormon dan pupuk, siklus kehidupan tanaman, Istirahat dan shalat dzuhur, pembibitan/persilangan hibrida dari dini, reproduksi dan overload pertanian, dan terakhir dalam sesi pertama ini peserta akan diberikan materi Gagalnya petani dan pangsa pasar pertanian.
Untuk sesi berikutnya, Selasa, 18/01/2012, materi yang akan diberikan diantaranya; Pemilihan dan pemilahan bibit unggulPengolahan pakan ternak dari limbah pertanianIstirahat dan shalat dzuhurMenciptakan reproduksi bibit unggulIstirahat dan shalat asar, dan  Pengembangbiakan silang bibit unggul.
Di hari terakhir peserta akan mendapatkan materi;  Metode promosi, Ritel dan non ritelMenciptakan pemodalan yang berdaya guna,  Menciptakan pekerjaan tanpa pemodalan, Memilih pasar untuk dipilihPraktekPembuatan pupuk organik, Stek anti cangkok dan Padi 75 hari panen.
Seperti yang disampaikan Jimmy, harapan dari pelatihan ini adalah munculnya petani-petani yang mampu mengembangkan diri dan peluangnya, menggerakkan petani bukan sebagai kelas bawah di negeri gemah ripah loh jinawi ini, "Menjadikan petani berdasi, membuat yang lazim menjadi tak lazim" tuturnya 
Apa kabar Indonesia hari ini. Kabar buruk setiap hari untuk anak-anak dan rakyat negeri ini. Baru-baru ini ramai di pemberitaan, dan social media, dengan foto-foto anak-anak sekolah sedang menyebrangi sungai untuk sekolah dari kampungnya. Menyebrangi sungai, tentu bukan hal yang aneh, tetapi menjadi luar biasa karena anak-anak dari berbagai daerah musti menyebrangi sungai dengan 'jembatan' yang tak layak. Di Kampung Ciwaru, Desa Sangiang Tanjung, Kecamatan Kalanganyar, Kabupaten Lebak, Banten, anak-anak pulang pergi sekolah harus menyebrangi jembatan gantung yang tinggal separo tali penahannya, anak-anak bergelantungan meniti sisa-sisa papan jembatan.
Tak kalah, di Dusun Cadas Bodas, Desa Mekarmukti, Kecamatan Cibalong, Kabupaten Garut Jawa Barat, kondisi serupa juga terjadi. Tak ada jembatan, anak-anak yang masih kecil itu harus terjun langsung menyebrangi sungai Cisanggiri, yang lebarnya 100 meter.
Di Kompas, dimuat gambar anak-anak kampung Cicaringin, Kecamatan Gunung Kencana, Lebak, Banten. Anak-anak SD nampak sedang menyebrangi sungai dengan meniti tali baja. 
Mereka anak-anak hebat. Meski dapat kita dengar sebagai anak-anak, mungkin dalam hati mereka juga sebenarnya terbesit untuk tak mau melakukan itu. Sedikit ada keengganan ke sekolah, karena harus setiap hari bertaruh nyawa untuk menimba ilmu.  Miris yang melihatnya. Bukan soal perasaan anak-anak itu tentunya. Bagaimana mungkin hal ini terjadi? Mungkin hanya sekian dari ribuan kasus di negeri ini. Banyak hal yang bisa dilihat dari satu macam gambar dari sekian gambar serupa seperti ini. Soal akses pendidikan? Kesadaran warga dan anak-anak untuk mengenyam pendidikan tentu tak diragukan. Tetapi bahwa kesadaran Pemda, Lebak, baik dari aparatur di tingkat kabupaten, kecamatan, maupun desanya, kesadaran tentang akses pendidikannya sepertinya bisa dibilang minim. Persoalan jembatan seperti ini di satu daerah tentu bukan sekedar persoalan akses pendidikan semata, kebijakan, keberpihakan, ekonomi warga, sosial-politik, budaya dan sebagainya, akan sangat memiliki implikasi logis dari tidak adanya satu hal, jembatan.
Kalau persoalan jembatan saja, yang secara konkrit memiliki fungsi sedemikian pentingnya, tidak ditangani dengan tanggap dan cepat, tak heran kalau kita tak pernah bisa bicara banyak hal di level percaturan dan persaingan global. Pertanian, kelautan, kehutanan, perkebunan, pertambangan, telekomunikasi-informatika, dan teknologi, sepertinya masih terlalu mengandalkan investor asing, yang sejatinya datang ke negeri ini karena sudah kehabisan sumber daya di negerinya. Sumber daya yang terkait hajat hidup orang banyak dikelola negara bukan menjadi basis penggerak dari ideologi perekonomian Indonesia, hanya sekedar slogan yang masih kalah dengan iklan-iklan simcard dan rokok di TV-TV.
Parahnya, para pejabat, di legislatif dan eksekutif, berlomba bukan untuk bertugas yang baik demi kemajuan bangsa, tetapi lebih pada kenyamanan pribadi dan golongan. Kalo bisa, mereka bisa hidup mewah, pergi jalan-jalan ke luar negeri di biayai negara, syukur kalau akomodasi dan oleh-oleh sekembalinya dari negeri tujuan juga APBN yang menanggung. Untuk anak-anak sekolah yang masih pulang pergi meniti tali besi, cukup bilang, "matilah awak"
Apa kabar Indonesia hari ini? Dengan santai kita bilang, "Kabarnya baik-baik saja!" 

[disarikan dari berbagai sumber]








image: lirboyoDotnet

Jakarta, NU Online Innalilahi Wainnilaihi Rojiun, kabar duka datang dari keluarga besar Pondok Pesantren Lirboyo, Kediri, Jawa Timur. KH. Imam Yahya Mahrus, pengasuh Pondok Pesantren HM Al Mahrusiyyah, Lirboyo, Sabtu (14/1) malam berpulang ke Rahmatullah, setelah sebelumnya menderita sejumlah penyakit dan sempat menjalani perawatan intensif di Graha Amerta RSU Dr. Soetomo, Surabaya. 

"Beliau wafat malam ini pada pukul delapan lewat tiga puluh menit atau setengah sembilan tadi. Beliau wafat pada usia enam puluh dua tahun," terang Kepala Seksi Penerangan Pondok Pesantren Lirboyo Arief Nur kepada NU Online melalu sambungan telepon seluler. 

Arief juga mengatakan, hingga Minggu dinihari jenazah almarhum masih dalam perjalanan menuju rumah duka dari Surabaya. Untuk penyakit yang diderita almarhum,  di antaranya disebutkan paru-paru basah, diabetes dan tumor paru. "Sakitnya komplikasi. Selain Beliau yang juga memang sudah sepuh. Sejak setahun terakhir Beliau memang sudah keluar masuk rumah sakit," imbuhnya. 

Untuk lokasi pemakaman, Arief juga mengatakan, hingga saat ini belum ditetapkan tempat yang pasti. Keluarga besar Pondok Pesantren Lirboyo menginginkan almarhum dimakamkan di pemakaman keluarga, namun berdasarkan wasiat yang disampaikan, almarhum ingin dimakamkan di salah satu tanah yang dimiliki dan nantinya didirikan pesantren baru. 

"Untuk lokasi pemakaman masih dibahas oleh keluarga besar Lirboyo. Semoga akan dihasilkan titik temu yang terbaik," tuntas Arief. 

KH. Imam Yahya Mahrus meninggalkan seorang istri, Nyai Hj. Zakkiyatul Miskiyyah dan enam orang anak yang terdiri atas enam putra dan dua putri. Selain menjadi pengasuh sekaligus pimpinan Pondok Pesantren HM Al Mahrusiyyah, Lirboyo, almarhum juga tercatat sebagai rektor Institut Agama Islam Tribakti (IAIT) Kediri. 
Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Said Agil Siradj (tengah) didampingi Ketua PBNU Arvin Hakim Thoha (kiri) dan Wakil Ketua Umum PBNU As'ad Said Ali berbicara terkait aksi pembakaran pondok pesantren Syiah yang terjadi di Sampang, Madura, Jawa Timur, saat jumpa pers di Kantor PBNU, Kramat Raya, Jakarta Pusat, Selasa (3/1). Dalam pernyataannya PBNU mengecam tindakan kekerasan berujung pada pembakaran sekolah, musala dan rumah pada Kamis 29 Desember 2011 yang mengatasnamakan agama.

MI/SUSANTO/pj
Sumber: Media Indonesia
Perjalanan transisi demokrasi di Indonesia yang sudah memasuki 13 tahun terasa telah berada pada titik nadir. Indonesia sebagai negara majemuk, terdiri dari berbagai suku bangsa, agama maupun aliran kepercayaan semakin terancam oleh tindak kekerasan atas nama agama yang dilakukan oleh kelompok-kelompok radikal terterhadap penganut agama tertentu. Tindakan intoleransi, radikalisme, terorisme oleh kelompok tertentu dengan mengambil alih fungsi penegakan hukum itu jelas telah menjadi ancaman nyata integritas bangsa.
Negara terlihat belum melaksanakan fungsi sebagaimana mestinya dalam menjalankan konstitusi negara.  Negara nampak tidak konsisten dalam memberikan perlindungan dan penghormatan terhadap hak atas kebebasan beribadah, beragama dan berkeyakinan bagi warganya. Kebhinekaan kita terganggu dengan banyaknya peristiwa kekerasan terhadap masyarakat dalam menjalankan keyakinannya. Ketenteraman kita terusik dengan terjadinya kekerasan atas nama agama seperti tragedi Cikeusik, insiden Ciketing dan Taman Yasmin, peristiwa Ambon serta bom bunuh diri Masjid Polres Cirebon dan  GBIS Solo.
Tidak berlebihan jika Lembaga Studi dan Advokasi masyrakat (ELSAM)  mengatakan bahwa tahun 2011 merupakan Titik Nadir Perlindungan HAM. Alih-alih memberikan perlindungan, pemerintah malah menjadi pelaku utama dan ikut terlibat dalam pelanggaran HAM. Jika dibanding tahun sebelumnya, kondisi kebebasan beragama pada tahun 2011 ini tidak menunjukkan gejala yang lebih baik. Malah, awal 2011 bisa disebut sebagai periode paling gelap bagi perlindungan kebebasan beragama di Indonesia. Pada bulan Februari 2011 sejumlah orang meninggal akibat gagalnya negara melindungi warganya. Setelah tragedi Cikeusik ini,  tercatat sedikitnya 12 pelanggaran terhadap kebebasan beragama juga terjadi, disusul bulan Maret dengan 11 kali pelanggaran
Dari mulai intimidasi hingga pengrusakan rumah ibadah,  tercatat telah terjadi 63 kasus pelanggaran atas hak dan kebebasan beragama pada tahun ini. Sebanyak 12 kali  kasus pelanggaran dilakukan oleh Pemda, 13 oleh warga masyarakat, 10 kasus dilakukan oleh massa Front Pembela Islam (FPI) dan 9 kasus pelanggaran dilakukan oleh Polri. Tindak pelanggaran ini belum termasuk pelanggaran yang berbentuk kebijakan. Dalam konteks ini, pemerintah justru mempromosikan dan mendukung sejumlah regulasi yang melanggar hak kebebasan beragama. Setidaknya sudah 11 regulasi daerah yang bertentangan dengan hak kebebasan beragama, 9 diantaranya mengatur Ahmadiyah dan 2 diantaranya mengatur aliran keagamaan yang dianggap menyimpang.
Tentunya tindakan kekerasan dan berbagai bentuk tindakan intoleran ini akan menimbulkan efek sosial dan menimbulkan pertanyaan penting: sejauh mana penghormatan akan perbedaan dan kebebasan beragama bisa tetap terjaga dan terjamin (terlindungi) sebagai sebuah kebanggaan dan kekayaan bangsa ini? Pemerintah dan aparat penegak hukum terlihat melakukan pembiaran atas tindak kekerasan yang menghalangi kebebasan beragama dan nampak abai dalam tugas-tugasnya.
Untuk itu kami dari koalisi masyarakat sipil dari JKLPK (Jaringan Kerja Lembaga Pelayanan Kristen di Indonesia), P3M (Perhimpunan Pengembangan Pesantren dan Masyarakat), AMAN Indonesia (The Asean Muslim Action Network) menyampaikan sikap keprihatinan atas situasi tersebut dan kami menyerukan :
  1. Negara harus bersikap tegas dalam menjamin serta melindungi secara penuh, kebebasan serta kemerdekaan setiap warga negara untuk memeluk dan menjalankan keyakinannya sesuai amanat konstitusi.
  2. Negara harus meninjau ulang seluruh regulasi yang diskriminatif dan membelenggu hak kebebasan beribadah, beragama dan berkeyakinan.
  3. Negara harus mengusut tuntas dan bertindak tegas  kepada pihak-pihak yang menganggu ketentraman masyarakat.
  4. Transisi Demokrasi yang damai sesuai dengan nilai-nilai demokrasi dan prinsip-prinsip kebhinekaan.

Jakarta, 20 Desember 2011
Kami Penyelengara :
Perhimpunan Pengembangan Pesantren dan Masyarakat (P3M)
Jaringan Kerja Lembaga Pelayanan Kristen di Indonesia (JKLPK)
The Asean Muslim Action Network (AMAN Indonesia)


Wakil Bupati Magelang Zaenal Arifin melangkah secara santun memasuki arena Suran Tegalrejo 2011 bertajuk Jamasan Insan, tradisi rintisan Pondok Pesantren Asrama Perguruan Islam (API) Tegalrejo, pimpinan Kiai Haji Muhammad Yusuf Chudlori (Gus Yusuf).

Para santri pondok pesantren (ponpes) setempat sejak tiga tahun terakhir merintis tradisi untuk merayakan tahun baru dalam kalender Jawa, Sura, yang oleh masyarakat dikenal dengan sebutan "Suran".

image: cakrawala sena [freshfluo]
Di ruangan terbuka untuk transit para undangan khusus di pojok arena pergelaran Suran Tegalrejo, di tepi Jalan Raya Magelang-Kopeng itu, duduk bersila antara lain budayawan Magelang Soetrisman, penyair Acep Zamzam Noor (Tasikmalaya) dan Dorothea Rosa Herliany (Magelang), Koordinator Komunitas Seniman Borobudur Indonesia (KSBI) Umar Chusaeni.

Selain itu, dalang wayang suket kelahiran Tegal, Slamet Gundono dan guru spiritual gerak yang juga pengelola Padepokan Lemah Putih Gunung Lawu, Kabupaten Karanganyar Suprapto Suryodarmo, penyanyi tembang sufistik berasal dari Ponpes Asy-Syahadah Gunung Lawu Candra Malik dan pengajar tari Universitas Negeri Yogyakarta Wenti Nuryani.

Aneka makanan tradisional seperti getuk, nagasari, nasi kuluban, dengan minuman teh dan kopi panas tersaji di deretan dua meja di ruang untuk undangan khusus tersebut.

Seniman teater Kota Magelang Gepeng Nugroho bersama sejumlah lainnya yang tiba beberapa saat pergelaran itu dimulai, duduk bersila, bergabung dengan masyarakat umum baik lelaki, perempuan, anak-anak dan pemuda. Di atas terpal plastik yang mengelilingi panggung itu.

Pengajar tari Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta Joko Aswoyo seakan menghindar untuk duduk bersama para undangan khusus. 

Ia yang berbaju koko warna putih dan mengenakan peci hitam itu terlihat mondar-mandir menikmati suasana eksotik arena Suran itu sambil berbincang dengan relasinya di KLG. 

Joko Aswoyo juga bertemu dan berbincang sebentar dengan seorang lulusan ISI Surakarta berasal dari Gunung Merbabu, Kabupaten Magelang, yang kini mengajar tari di SMP Negeri 4 Kota Magelang Titik Sufiani.

Gus Yusuf yang malam itu mengenakan surjan warna putih dan belangkong hitam khas itu, hilir mudik mendekati dan menyapa setiap orang yang masuk lokasi Suran yang terkesan bernuansa eksotik tersebut.

Para petinggi seniman petani Komunitas Lima Gunung Magelang (Merapi, Merbabu, Andong, Sumbing, dan Menoreh) mengenakan pakaian adat Jawa antara lain surjan, bebet, dan belangkon, dengan keris terselip di punggungnya, sedangkan seniman perempuan berkebaya aneka motif dan berjilbab. 

Mereka berdiri berderet dan saling berhadapan dengan tatanan properti lilin bertudung kertas minyak warna kuning di tengah jalan masuk lokasi Suran, menyambut secara hormat dengan menyalami setiap tamu.

Musik tradisional shalawat Jawa Surah Nabi dimainkan 22 seniman grup Donoroso Mekarsari Desa Banyusidi, Kecamatan Pakis, Kabupaten Magelang, di lereng Gunung Merbabu pimpinan Yosodipuro (62) dari panggung pengiring berukuran 48 meter persegi dengan instalasi dari tatanan dedaunan dan batang pepohonan kering membentuk dua gunungan raksasa.

Mereka memainkan tembang-tembang shalawat beriring tabuhan lima alat musik Islami, terbang, dengan syair antara lain Pengajabsih, Dhandanggula, Kinanti, dan Pangkur, seakan turut menyambut kedatangan para tamu dan masyarakat umum di arena dengan panggung pementasan berkarpet warna hijau, rajutan batang pohon jagung, dan lampu sorot aneka warna tersebut di bawah tenda cukup besar.

Langkah kaki Zaenal yang malam itu mengenakan baju koko warna putih dengan berpeci hitam dihentikan Arwanto, salah seorang penerima tamu. Lelaki muda anggota KLG Magelang itu menggunakan siwur, mengambil air dari satu di antara tiga gentong yang masing-masing bertuliskan tiga baris kalimat berbahasa Arab, kemudian meminta Wabup Zaenal menjulurkan kedua tangannya guna dibasuh.

Setiap tamu undangan khusus menjalani prosesi membasuh tangan dari air gentong itu, ketika memasuki arena Suran Tegalrejo. Dua seniman yakni Arwanto dan Ismanto secara hormat membasuh mereka satu per satu, yang rupanya sebagai simbol atas prosesi Jamasan Insan Suran Tegalrejo 2011.

"Delapan menit lagi kita mulai, sesuai rencana (pukul 20.15 WIB, red.)," kata Riyadi, pengatur acara Suran Tegalrejo, tatkala berkoordinasi di dekat panggung dengan dua pembawa acara Endah Pertiwi dan Gus Kholil, beberapa saat sebelum mulai pergelaran tradisi Suran Tegalrejo itu.

Para tamu undangan berpindah tempat bersila dari ruangan khusus mereka di dekat jamuan malam ke karpet di dekat panggung, sedangkan ratusan masyarakat umum yang sebelumnya berdiri di tepi arena pun merangsek duduk bersila dan sebagian lagi berdiri, di dekat panggung setinggi 20 centimeter, ketika belasan anak penari Geculan Bocah memulai memainkan tariannya pada pergelaran Suran Tegalrejo itu. Beberapa nomor gerak tari Geculan Bocah membuat para penonton berurai tawa.

Hujan yang sempat dikhawatirkan panitia turun saat mereka menggelar tradisi Suran, disebut Riyadi yang juga pemimpin Padepokan Warga Budaya Gejayan, di lereng Gunung Merbabu itu, sebagai "kalis" (tidak mempan), meskipun mendung tebal menggantung di langit kawasan Ponpes API Tegalrejo.

Zaenal dari tempatnya bersila tampak melambaikan tangan kanannya, tanda memanggil Atika yang baru saja turun panggung, selesai membaca puisi karyanya berjudul "Busyyeett.....!!!!". Atika adalah gadis remaja korban banjir lahar Gunung Merapi melewati alur Sungai Putih, warga Desa Sirahan, Kecamatan Salam, Kabupaten Magelang, dan siswi SMP Negeri 2 Salam.

Puisi "Busyyeett.....!!!!" itu terdiri atas lima bait. Kata "busyyeett" yang dimaksud Atika, dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia tertulis "buset", yang artinya makian lembut untuk menyatakan umpatan dan keheranan.

Busyyeettku adalah desisan gadis kecil yang ingin jadi penyair. Yang terlahir sebagai ulat bulu yang menakutkan, menjijikkan, dan menggelikan. Hingga tak layak untuk berkawan.

Busyyeettku adalah ulat yang ingin jadi kepompong. Bertahun tahun aku jalani. Jadi kurir di usia dini. Jadi pengajar baca tulis di keluarga pemilik duit. Dan mengumpulkan jilid demi jilid untuk memenuhi tas ilmuku.

Busyyeettku adalah terima kasih pada bintang. Yang bersinar terang di atas lima gunung, yang menawan. Yang membantuku bermetamorfosis. Hingga menjelma menjadi butterfly nan elok dan rupawan. Walau kepakan sayapku tak seindah ekor si burung merak. Tapi sangat berharga, tak terbatas.

Busyyeett.....!!!! Busyyeettku adalah gadis kecil yang ingin jadi penyair. Yang terlahir dari kasta yang terakhir. Yang ingin terbang walau tak setinggi bintang. Tapi ikut mewarnai kehidupan, hingga tak sia-sia adanya.

Busyyeett. Gadis kecil itu kini menjelma. Menjadi kupu-kupu yang bisa menyeberangi sungai lahar yang menakutkan. Terbang ditemani sinar kunang-kunang. Menari riang di atas awang-awang. Busyyeett.....!!!!

"Tadi aku ditanya (Oleh wabup, red.), desaku, sekolahku, kelas berapa, bapakku," kata Atika yang mengenakan baju Islami motif bunga dan berjilbab warna oranye, usai pergelaran hingga nyaris tengah malam itu.

Sutanto Mendut, pemimpin tertinggi KLG Magelang yang berpidato kebudayaan di panggung dengan properti 20 penari kontemporer gunung Gupolo Gunung yang masing-masing di dalam kurungan ayam malam itu memperkenalkan Atika sebagai anak cerdas secara alamiah dari tepi Kali Putih, selalu berprestasi di sekolahnya, dan setiap hari membantu ibunya membuat camilan tradisional seperti permen tape, permen sirsak, jenang dodol, krasikan, dan wajik bandung di desanya yang kini telah rusak akibat terjangan banjir lahar. 

Atika yang hidup bersama ibunya karena ayahnya meninggalkannya sejak kecil itu, selama sekitar delapan bulan, sejak awal 2011, harus mengungsi karena desanya terkena terjangan banjir lahar Gunung Merapi melalui Sungai Putih.

"Jamasan Insan ini adalah jamasan manusia, jamasan hak asasi manusia. Kalau wahyu pertama yang diterima Nabi Muhammad SAW itu `iqra` bukan semata-mata untuk membaca manusia secara kasat mata dari segumpal darah. `Iqra` isinya tentang pesan pendidikan dan kebudayaan yaitu membaca dan menulis. Bahwa kita ini manusia yang bukan istimewa, yang suka memvonis, mengadili, atau memutuskan surga dan neraka," kata Tanto Mendut yang juga pengajar Program Pascasarjana ISI Yogyakarta itu.

Sebelum para penari keluar dari kurungan ayam masing-masing dan mempersembahkan tarian Gupolo Gunung, simbol penjagaan kelestarian lingkungan gunung dan desa, grup musik Warga Budaya Gejayan mengiringi lantunan shalawat solo "Iqra" yang dibawakan seorang penembang Sismanto, dengan tabuhan lembut bende, kenong, dan gong.

Pada pergelaran tradisi Suran Tegalrejo bertajuk "Jamasan Insan" selama sekitar 2,5 jam itu, Candra Malik membawakan tiga tembang bernada sufistik dengan iringan gitar akustik, masing-masing berjudul Shiratal Mustaqim, Fatwa Rindu, dan Jiwa yang Tenang.

"Kita pikirkan kemana kita pulang. Ke Allah, tentu rindunya luar biasa. Rindu kita semua kepada Allah," kata Candra sebelum menembangkan lagu kedua berjudul Fatwa Rindu.

Acep Zamzam Noor membacakan dua syair masing-masing berjudul Ode untuk Penyanyi Dangdut dan Ada Banyak Cara, sedangkan Slamet Gundono menggunakan gitar mininya, berkolaborasi dengan pemetik gambus Habib Mustofa Al Habsi dan performa Suprapto Suryodarmo, memainkan repertoar Gambus Jawa.

Selain itu, belasan santri Ponpes API Tegalrejo dengan pemimpin grup Shollahudin Al Ahmed menyuguhkan tembang Syi`ir Tanpo Waton yang merupakan karya guru bangsa, Kiai Haji Abdurrahman Wahid (Gus Dur).

"`Kabeh tinakdir saking Pengeran. Kelawan konco dulur lan tonggo. Kang podho rukun ojo dursilo. Iku sunahe Rosul kang mulyo. Nabi Muhammad panutan kito. Ayo nglakoni sakabehane. Alloh kang bakal ngangkat drajate. Senajan asor toto dhohire. Ananging mulyo maqom drajate`," demikian salah satu syair yang mereka lantunkan dalam iringan tabuhan musik terbang itu.

Shollahudin mengartikan kalimat tembang berbahasa Jawa itu antara lain bahwa takdir berasal dari Tuhan sehingga terhadap teman, saudara, dan tetangga harus rukun dan jangan bertengkar. Hal itu juga sebagai sunah Rasul, Nabi Muhammad, teladan umat yang harus dijalankan. Allah mengangkat derajat manusia. Walaupun manusia tampilan fisiknya rendah, derajat spiritualnya mulia di hadapan Allah.

Gus Yusuf menyebut tradisi Suran Tegalrejo 2011 bertema Jamasan Insan dengan pergelaran berbagai karya seni dan budaya itu mengajak setiap individu menyadari hakikat kemanusiaannya.

"Senang saya malam ini dengan Jamasan Insan. Ini malam jamasan, kita terkadang melihat manusia, yang `disawang` (dipandang) `dedeg e` (tinggi badan atau fisiknya) manusia, tetapi kelakuannya seperti hewan, penindasan, petani digusur, disakiti, dibantai, banyak saudara-saudara kita tidak bisa makan karena jatahnya dikeruk orang kaya yang tidak puas dengan kekayaannya. Korupsi makin menjadi, panutan tak bisa jadi panutan," katanya.

Jamasan Insan, katanya, dorongan kesadaran terhadap setiap individu untuk membersihkan diri menjadi berhati mulia dan kembali sebagai manusia yang berlimpahkan cinta dan kasih sayang.  (M029*H018/Z002)
Editor: B Kunto Wibisono
Sumber: Antara News
Sleman – Pondok Pesantren (Ponpes) semula hanya dipahami sebagai lembaga untuk mempelajari mengenai agama. Dewasa ini, pengertian Ponpes semakin terbuka, karena lembaga ini juga memasukan unsur pendidikan dan pengajaran umum.
Dalam Sarasehan Pimpinan Pondok Pesantren se-DIY, Pengasuh Ponpes Mahasiswa Ali Maksum, Krapyak, Abdul Ghofur Maemun, Pakar Ilmu Tafsir Waryono Abdul Ghafur serta Pengasuh Ponpes Hamfara Muhammad Ismail Yusanto berbagi mengenai perkembangan Ponpes di DIY.
Menurut ketiganya saat ini Ponpes berkembang semakin luas karena turut berbagi mengenai berbagai ilmu yang berguna bagi masyarakat. Adapun, salah satu pendidikan yang kini diperkenalkan ialah memperbaharui kurikulum ponpes dan mengajarkan usaha-usaha ekonomi produktif.
Ismail menjelaskan dengan perkembangan tersebut, muncul berbagai perspektif penafsiran. Untuk itu dialog seperti ini sebaiknya rutin dilakukan agar terjadi komunikasi yang strategis sehingga tidak timbul konflik. "Jika UIN bisa memfasilitasi pertemuan seperti ini secara rutin akan baik adanya," kata dia di Laboratorium Agama Masjid Sunan Kalijaga siang ini.
(JIBI/Harjo/Edi)
Sumber: Solo Pos dot Com, 29 November 2011
Said Aqil: Revolusi Perilaku Korupsi Melalui Semangat Hijriyah
Said Aqil Siradj
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA - Pemimpin dan masyarakat Indonesia seharusnya dapat menjadikan momentum tahun baru hijriah sebagai usaha untuk melakukan perbaikan. Perilaku korupsi yang sudah melekat dengan pejabat dan birokrat di negeri ini harus dapat direvolusi secara moral melalui semangat dalam menyambut 1 Muharam 1433 H.

Demikian pendapat Ketua Pengurus Besar Nadhatul Ulama (NU), Said Aqil Siradj. ''Kita umat Islam yang pernah punya sejarah gemilang, seharusnya bisa mengembalikan lagi semangat tamadun yang pernah dibangun oleh Rasulullah,'' kata Said Aqil

Kang Said, demikian sapaan Said Aqiil, datangnya tahun baru Hijriah seharusnya bisa dijadikan momentum oleh umat Islam untuk bisa memperbaiki diri. ''Kalau masih ada pejabat atau pemimpin Muslim masih korupsi maka hal itu sama saja mencoreng martabat umat Islam secara keseluruhan,'' ujarnya.

Ia mengajak para pemimpin di negeri ini untuk melakukan intropeksi diri terhadap segala perilaku korupsi. Namun demikian, ia juga menyerukan agar pemimpin dan umat Islam tetap optimis menatap masa depan Indonesia yang lebih baik.

Lebih lanjut Kang Said mengatakan, hikmah lain yang terkandung dalam hijrah Rasulullah ke kota Yastrib adalah beliau membangun peradaban, budaya, moral serta kebersamaan. Selain itu Rasul menata tatanan kehidupan di tempat baru itu dengan menjunjung hukum di atas segalanya. ''Jadi marilah kita berbenah diri,'' katanya.


Redaktur: Johar Arif
Reporter: M Akbar

facebook.com/pages/I-LOVE-AL-ZAYTUN
Ilustrasi : Pondok Pesantren AL Zaytun di Desa Mekarjaya, Kecamatan Gantar, Kabupaten Indramayu, Jawa Barat.
JAKARTA, KOMPAS.com - Setara Institute mengungkapkan dari hasil survei di Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta secara umum 1.200 responden menganggap pesantren bukan tempat persemaian gerakan Islam radikal. Hal ini diungkapkan melalui pendapat 63,6 persen responden di wilayah tersebut yang menyatakan pesantren bukan akar dari radikalisme.
Seandainya pun terdapat pesantren yang dijadikan basis persemaian gerakan Islam radikal, jumlahnya tidak terlalu signifikan dibandingkan dengan pesantren pada umumnya
-- Bonar Tigor Naipospos

"Seandainya pun terdapat pesantren yang dijadikan basis persemaian gerakan Islam radikal, jumlahnya tidak terlalu signifikan dibandingkan dengan pesantren pada umumnya," ujar Wakil Ketua Setara Institute Bonar Tigor Naipospos, di Jakarta, Senin (21/11/2011).
Hanya sebagian kecil responden yaitu 10,2 persen yang memandang bahwa terdapat pesantren tertentu yang digunakan kelompok Islam radikal sebagai akar pembentukannya. Kata Bonar, persoalan yang kemudian muncul bukan terletak pada kecilnya jumlah pesantren berbasis radikal. Namun, terletak pada kenyataan bahwa masih adanya sejumlah pesantren yang mengajarkan nilai-nilai radikalisme.
Saat ini sendiri, menurut Bonar, kelompok radikal 34,7 persen tengah gencar mencari pengikutnya. Selain itu, sebanyak 42,9 persen masyarakat responden menilai, pergerakan kelompok radikal dilakukan secara tertutup. Sebanyak 6,4 persen anggota masyarakat juga menilai bahwa kelompok Islam radikal mengombinasikan metode terbuka dan tertutup untuk menjalankan aktivitasnya.
Sarana kelompok radikal untuk menyebarkan pesan radikalisme, menurut Setara, 23,9 persen dilakukan melalui forum pengajian. Sedangkan 9,1 persen melalui ceramah umum dan 6,9 persen melalui brosur maupun selebaran.
"Materi pesan yang digencarkan terutama mengenai anti kemaksiatan sebesar 24,2 persen dan negara berdasarkan syariah Islam sebesar 21,7 persen," terangnya.
Dengan pesan-pesan tersebut, kata Bonar, sebesar 26,8 persen orang percaya akan gerakan radikal. Sisanya mengikuti gerakan ini karena faktor ketidakadilan ekonomi sebesar 13,4 persen, problem psikologis sebesar 11,3 persen dan tidak setuju dampak buruk budaya barat sebesar 7,2 persen.

Sumber: Kompas